Jumat, 28 September 2007

MAGNET KOTA SEJUTA LAMPU


TUR GP F1 SHANGHAI



Empat hari singgah menikmati keindahan arsitektur modern dan lampau
Setelah terbang dari Jakarta melalui Kuala Lumpur selama 7 jam lebih akhirnya saya tiba di bandara International Pu Dong, Shanghai (24/9) pukul 8.30 (perbedaan waktu Jakarta lebih lambat 1 jam). Tanda-tanda bahwa kota ini siap menggelar balap jet darat mulai saya rasakan saat beberapa pamplet F1 Shanghai terpasang di sudut bandara. Bis jemputan rombongan Gala Express, Jakarta di mana saya salah satu di dalamnnya sudah menunggu. Bersama seorang tour guide asal Shanghai bernama Cai Zhan Yi rombongan langsung dibawa menuju pusat kota.
Sepanjang perjalanan, tour guide yang biasa disapa Chandra ini menceritakan seluk-beluk kota Shanghai. “Kota Shanghai ini tepat berada di pinggir sungai Yang Tze. Saat ini memiliki 2000 gedung berlantai di atas 20,” ungkap pria 33 tahun. Buat tranportasi di samping taksi dan bis, kota ini menyediakan Shanghai Maglev Train berkecapatan 340 km/jam, 30 km ditempuh 7 menit 20 detik.
********
Setelah jalan beberapa menit rombongan tiba di kawasan The Bund. Gedung-gedung berarsitek Eropa kuno bertebaran di sepanjang jalan. Dari kawasan ini kami berjalan kaki melewati lorong bawah tanah untuk melihat lebih dekat sungai Huang Pu plus panorama teve tower yang terkenal itu. Masih di kawasan The Bund, saya sempat memotret patung walikota Shanghai pertama, Chen Yi. “Walikota ini seorang Jenderal Cina yang punya otak bisnis brilian,” kata Chandra.
Setelah itu rombongan langsung diajak meluncur ke Jade Buddha Temple di Anyeun Lu. Sebuah tempat yang mecerminkan betapa relijiusnya masyarakat China. Nah, dari sini kami segera pergi ke tempat menginap di Everbright International Hotel, Cao Bao Road 66.
Sekitar pukul 18.00 rombongan pergi makan malam dan dilanjutkan ke Oriental Pearl Tower. Fantastis...dari atas gedung tertinggi di Asia dan nomor tiga di dunia ini saya dapat melihat kilauan jutaan lampu nan eksotik dari gedung-gedung pencakar langit di pinggir sungai Huang Pu.
Keesokan harinya. Sabtu (25/9), pukul 9.00 rombongan langsung berangkat ke Yuyuan Garden. Jika Anda ingin bawa oleh-oleh tradisonal Shanghai, tempat ini boleh dipilih. Di sini kemampuan menawar barang sangat diperlukan.
Setelah selesai belanja pukul 11.30, rombongan langsung menuju sirkuit F1 di distrik Jia Ding untuk nonton babab kualifikasi. Selama 1 jam perjalanan tibalah kami di sirkuit megah seharga Rp. 2,4 triliun. “Untuk mengelilingi sirkuit ini dibutuhkan waktu 1,5 jam dengan berjalan kaki,” kata Zainudin, peserta tour dari Pondok Indah Jakarta Selatan.
Dari sirkuit, Chandra mengajak mengunjugi pabrik pengolah kain sutera. Sebelum melihat pengolahan sutera, kami menyaksikan fashioh show gadis-gadis cantik yang meperagakan baju berbahan sutera. Di tempat ini Anda dapat membeli baju, sarung bantal, dan lainnya asli dari sutera. Sebuah cara pengelolan pariwisata patut ditiru.
Malamnya, kami berangkat ke Nanjing Road, sebuah tempat belanja modern di pusat kota baru Shanghai.. Gaung F1 saya rasakan saat singgah di sebuah toko permata lantaran memajang pamplet F1 Shanghai. Buat turis asing Mojo Cafe di sudut jalan ini Road bisa jadi tempat oke buat menikmati kopi. Khusus yang ingin bawa kenangan-kenangan Rolex dan pen Mon Blanc replika di sinilah tempatnya.
Pagi harinya (26/9) rombongan bersiap ke sirkuit untuk menyaksikan balap F1. Ketika sedang berkeling di sirkuit saya banyak sekali bertemu orang Indonesia. Salah satunya bertemu dengan Dian Sastro yang pergi bersama rombongan sebuah perusahan elektronik. “Saya tertarik dengan desain atap tempat duduk sirkuit berbentuk seperti pesawat UFO,” ujar artis pemeran Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta.
Tepat hari Senin pagi pukul 6.00 (27/9) kami berangkat dari hotel untuk pulang ke Jakarta. Dari kunjungan singkat ini saya berkesimpulan, China begitu memperhatikan pembangunan jalan layang, kebersihan kota, dan pengelolaan pariwisata. Walau ini kota modern, sepeda dan motor matik saya lihat banyak di sudut kota. Untuk hal positif ini negara kita nampaknya boleh juga belajar dari China Rahmat

Tidak ada komentar: